Berita Terbaru


Wednesday, 18 April 2012
PENERIMAAN MAHASISWA BARU SEKOLAH TINGGI ILMU STATISTIK TAHUN AKADEMIK More...
Wednesday, 11 April 2012
MERANGKAI MASA DEPAN MELALUI PEMAGANGAN I Wayan Sarianta (28) berbekal ijazah More...
Wednesday, 11 April 2012
MAGANG KE JEPANG Orang yang menganggur dalam arti tidak memiliki pekerjaan dan More...
Monday, 02 April 2012
Informasi lowongan kerja di Luar Negeri Lowongan kerja ke luar negeri dari More...
Monday, 02 April 2012
Pertenunan yang Menjaga Kelestarian Alam dan Budaya*) Program Bali Green More...
Wednesday, 22 February 2012
BURSA KESEMPATAN KERJA (JOB FAIR) BALI 14 - 15 JULI 2012 DI GOR LILA BHUANA More...
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday1063
mod_vvisit_counterYesterday1070
mod_vvisit_counterThis week8227
mod_vvisit_counterLast week9045
mod_vvisit_counterThis month22846
mod_vvisit_counterLast month33164
mod_vvisit_counterAll days479999

Menganggur No, Bekerja Yes ! Bingung Cari Pekerjaan...Klik Saja BursaKerjaBali.com !!!

Menebar Harum Menyerap Pengangguran

MENEBAR BAU HARUM, MENYERAP PENGANGGURAN

I. Mulai Dari Meniru.

Hidup di Denpasar harus kreatif agar bisa memenuhi kebutuhan hidup, jika tidak kreatif maka kita akan menambah jumlah pengangguran dan kaum miskin. Ini prinsip Dra. Ida Ayu Armapurnawati (44), sarjana pendidikan kelahiran Jembrana, yang tinggal di daerah Monang-Maning Denpasar. Dayu, demikian nama panggilannya, pernah mengalami krisis ekonomi dalam keluarganya. Penghasilan sang suami yang bekerja sebagai pedagang keliling (mengkanvas) barang kebutuhan sehari-hari sangat pas-pasan. Kondisi ini mendorong Dayu untuk mencari solusi.

Dilihatnya ada salah satu barang yang dijual suaminya sangat laris, yaitu dupa. Dari situlah muncul ide membuat dupa sendiri untuk dijual oleh suami. Teknik membuat dupa pun didalaminya bersama suami sampai akhirnya bisa membuat dupa dengan kualitas yang mirip dengan produksi pabrik besar. Produk hasil meniru ini ternyata laku. Dari peristiwa tahun 2002 itu, Dayu yakin usaha ini akan berkembang karena dupa sudah menjadi kebutuhan masyarakat.

II. Mengembangkan Usaha

Mengelola usaha ternyata sangat rumit, oleh karena itu Dayu ingin meningkatkan kemampuannya berwirausaha. Pada tahun 2007 Dayu mengikuti kegiatan Tenaga Kerja Pemuda Mandiri Profesional (TKPMP) yang digelar Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Bali (Disnakertransduk Bali). Kegiatan TKPMP yang dilaksanakan sejak tahun 1994 ini mendidik pesertanya agar mampu berwirausaha.

Pelatihan kewirausahaan ini telah membuat Dayu semakin serius menekuni usaha dupa. Pembina wirausaha dari Disnakertransduk Bali dan mitra kerjanya dari LSM Yayasan Pertanian Organik Bali (YPOB) pun bersemangat membina usahanya. Disnakertransduk Bali memang bekerjasama dengan berbagai pihak, termasuk dengan beberapa LSM dalam program penanggulangan pengangguran.

Untuk mengembangkan usaha yang telah dirintis oleh Dayu bersama suaminya, Disnakertransduk Bali saat itu memberi bantuan sarana usaha senilai Rp. 2.500.000,- dan YPOB memberi kredit sebesar Rp. 5 juta. Usaha dupa ini mulai meningkat secara bertahap, baik jumlah produksi, omzet maupun daerah pemasarannya. Sang suami pun berhenti berdagang keliling agar bisa lebih serius dalam bisnis dupa. Perjuangan mereka tidak sia-sia. Dupa bermerek ”Cahaya Dewata” sekarang telah merambah wilayah Bali, Lombok, Sulawesi dan Lampung.

Usaha rumah tangga yang masih tergolong usaha sektor informal ini menyerap tenaga kerja dari tetangga sekitarnya yang memerlukan pekerjaan atau penghasilan tambahan. Sekitar 10 orang tetangganya bekerja membungkus dupa ini dengan upah  Rp. 300,-/bungkus. Kemampuan perusahaan mikro ini berproduksi rata-rata 500 bungkus/hari. Pekerja boleh membungkus dupa di rumah masing-masing atau di rumah Dayu. Pekerjaan membungkus dupa di rumah Dayu hanya berlangsung di sore hari, karena pagi hari digunakan untuk mencelup dupa dengan aroma dan warna tertentu. Dayu membayar upah pembungkusan sekitar Rp. 4 juta/bulan.

Pada mulanya Dayu membuat dupa dari proses awal, mulai dari menyiapkan tangkai dupa (stick), mencampur bahan baku, dan seterusnya. Proses ini ternyata tidak ekonomis dan mengganggu kebersihan/kesehatan lingkungan karena Dayu tinggal di lingkungan padat penduduk. Strategi produksi lalu diubah dengan membeli dupa yang sudah jadi, baik produksi luar negeri (Cina atau Taiwan) maupun dalam negeri (Jawa Timur dan Bali).

Proses produksi dimulai dari tahap pencelupan dupa dengan aroma tertentu, pengeringan, pembungkusan dan pemasaran. Jenis aroma dupa yang diproduksi antara lain aroma tulip, lotus, jempiring, jasmin (melati), pudak, jepun, musk, cempaka, cendana, madu, dan kresna. Dari berbagai aroma tersebut, dupa beraroma lotus (teratai) yang paling laris.

Dayu menyadari bahwa kesuksesan suatu usaha sangat ditentukan oleh aspek pemasaran. Oleh karena itu, pengusaha mikro alumnus TKPMP ini berupaya membina tenaga pemasarannya, baik yang di Denpasar maupun di daerah lainnya. Di Denpasar, Dayu memiliki dua orang pegawai tetap sebagai tenaga pemasaran yang dinilainya sudah andal. Beberapa orang yang berprofesi sebagai pegawai negeri sipil di Kota Denpasar juga ikut memasarkan dupa ini, tentu dengan sistim imbalan tertentu. Di daerah Bali, sekitar 20 orang terlibat memasarkan dupa ini.

Untuk menambah gairah kerja para tenaga pemasaran ini, mereka dibolehkan menjual dupa sedikit di atas harga yang ditentukan oleh Dayu. Dari berbagai daerah pemasaran, Kabupaten Buleleng dan Jembrana merupakan daerah yang paling banyak memesan. Omzet untuk dua kabupaten ini mencapai Rp. 15 juta per bulan, sedangkan daerah lainnya hanya sekitar Rp. 4 juta.

Mengenai permodalan, pengusaha mikro ini baru saja melunasi kredit usaha dari Bank Rakyat Indonesia sebesar Rp. 10 juta, dan saat ini sedang memproses kredit dari Bank Sinar. Kredit usaha dari LSM tetap digunakan, walaupun sekarang jumlahnya menjadi terasa sedikit karena LSM pembina hanya menyalurkan kredit mikro sebesar Rp. 5 juta. Pengambilan dan penggunaan kredit ini tentu sudah mempertimbangkan risiko secara matang.

 

III. Masalah Itu Ibarat Pupuk.

Dayu optimis usahanya akan berkembang dengan baik, walaupun permasalahan bisnis selalu terjadi. Persaingan bisnis dupa cukup ketat karena perusahaan dupa sangat banyak. Oleh karena itu, Dayu pun menjaga kualitas produknya dengan baik. Dia menyadari bahwa menjaga kualitas produk merupakan hal yang sangat penting dalam berbisnis. Jika konsumen kecewa dengan kualitas produknya, maka kerugian pasti terjadi. Berita tentang jeleknya kualitas suatu barang sangat cepat menyebar.

Tertipu atau dikecewakan oleh konsumen atau pelanggan, bahkan oleh pegawai sendiri pun pernah dialaminya. Suatu ketika, pegawai yang dipercayainya memegang resep rahasia ramuan dupa tiba-tiba minta berhenti dan akhirnya ketahuan yang bersangkutan mendirikan usaha dupa sendiri. Tetapi kejadian itu tidak menyurutkan semangatnya berwirausaha. Supaya tidak terlalu kecewa, dia menganggap kejadian itu sebagai pupuk yang akan membuat usahanya semakin subur. Berbagai masalah yang dialaminya itu menjadikan Dayu semakin matang dalam berwirausaha. Teknik pemasaran semakin disempurnakan dan resep pencelupan dupa dijaga ketat.

Pengusaha mikro ini telah berupaya agar harmonis dengan lingkungannya. Di samping menyerap tenaga kerja dari lingkungan, Dayu selalu menjaga kesehatan dan kebersihan lingkungan seperti yang disarankan oleh pembinanya. Sampah memang tidak banyak karena usaha ini tidak membuat dupa dari proses awal, melainkan hanya mencelup dengan aroma tertentu.

IV. Prospek Usaha

Dayu meyakini prospek usaha dupa ini akan tetap cerah di masa depan. Untuk itu, dia rajin mengamati perkembangan model dupa supaya bisa mengikuti selera pasar. Berbagai bentuk dupa mulai dari yang pendek kecil hingga yang besar panjang telah disediakannya. Dayu pun berupaya memenuhi saran pembinanya untuk menjaga kontinuitas ketersediaan bahan baku demi kestabilan harga jual dan tingkat keuntungan. Hal ini sangat penting diperhatikan oleh pengusaha mikro mengingat ketatnya persaingan dan terjadinya fluktuasi harga bahan baku.

Untuk pengembangan usaha, Dayu dan suami sedang berupaya memenuhi saran pembinanya agar mencari tempat usaha yang lebih luas. Hal ini masih terkendala oleh terbatasnya kemampuan berinvestasi. Dayu ingin menjadi pengusaha besar yang  memiliki banyak tenaga kerja sehingga pengangguran makin berkurang. Oleh karena itu, pemerintah diharapkannya tetap membina usahanya.

 

*) Drs. I Wayan Nurjaya, M.Si. Kasi Usaha Mandiri & TK Sektor Informal, Bidang Pentaluas, Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Bali (HP 081338024161).

Dimuat Bali Mandara Edisi XX/November 2010 hlm. 3 & 7

 
We have 29 guests online